Masjid dan Fobia Islam

Posted on Posted in Hiburan

Kamus Besar Bahasa Indonesia memberikan pengertian fobi sebagai perasaan takut terhadap sesuatu tanpa sebab tertentu. Dalam terminologi klinis, kata fobi digolongkan dalam bentuk neurosa fobik (Phobic neurosis), suatu gejala kejiwaan yang ditandai rasa takut yang hebat sekali terhadap suatu benda atau keadaan yang oleh individu bersangkutan sebenarnya disadari bukan sebagai ancaman. (Maramis, 1980). Jadi fobi merupakan rasa takut yang irasional terhadap suatu benda atau keadaan tertentu. Tak kurang dari 180 bentuk fobi yang telah diklasifikasi oleh para ahli kejiwaan, seperti seseorang yang takut terhadap api (pyrophobia), takut terhadap kucing (galeophobia), takut pada tempat tertutup (claustrophobia) dan sebagainya.

Seseorang yang mengalami fobi tatkala berhadapan dengan benda atau sesuatu keadaan yang menimbulkan pemicu, akan timbul padanya ketakutan, kekhawatiran dan panik. Bahkan, tak sedikit yang disertai tindakan represif. Gejala kejiwaan semacam ini bisa menimpa siapa pun. Tak kenal status dan jenis kelamin. Kalangan intelektual pun bisa terkena semacam ini. Meski reaksi yang muncul akan berbeda. Ada masjid bawah tanah tuban, salah satu destinasi wisata yang indah.

Kala (wacana) penerapan syariat Islam melambung, banyak kalangan terhinggapi fobi. Lantaran terkait keislaman, sekelompok orang yang tergolong intelektual pun terhinggapi islamophobia. Suatu keadaan takut yang irasional terhadap nilai-nilai Islam yang coba diejawantahkan dalam kehidupan sehari-hari. Termasuk diantaranya dalam penerapan syariat Islam, seperti rajam. Namun begitu, para pakar terkadang masih mampu menyembunyikan ketakutannya. Mereka berlindung dibalik sikap ‘kritis’ dalam setiap penyajian pendapatnya. Yang sebenarnya tak lebih dari refleksi panik, khawatir dan takut. Bahkan, diantara beberapa pandangannya bisa dikategorikan sebagai tindak represif. Melakukan bentuk penekanan dan serangan dalam bentul tulisan terhadap keadaan yang ditakutinya. Contoh paling ril, adalah tulisan Luthfie Assyaukanie yang dari judulnya telah menampakkan gejala fobi. “Syariat Islam: Perlu Dikhawatirkan” (Koran Tempo, 5/5/01). Begitu judul yang ia tulis yang merepresi pernyatan Prof. Dr. Muladi, S.H. yang setuju bila umat Islam menerapkan syariat Islam. Dari judul itu pula nampak nyata sikap panik salah satu pemikir Paramadina ini. Belum kalau menelaah uraian di dalamnya. Bagai cacing terpanggang sinar mentari! Gerah, gundah menghadapi aspirasi umat yang telah kukuh untuk menegakkan syariat Islam.
Kalaulah hendak mengembangkan wacana atau berpolemik dengan adab saling menghargai pendapat, tentu tidak perlu disertai dengan sikap khawatir, panik dan represif. Memaparkan wacana dengan melakukan pelecehan dan merendahkan terhadap substansi materi polemik adalah bukan sikap seorang intelektual berbudaya dan bukan pula budayawan yang berintelektual.
Ironis memang. Penerapan syariat Islam dipedayai oleh mereka yang telah tercatat sebagai “muslim”. Kepanikan mereka ditampakkan, justru saat Islam dijadikan alternatif dalam tatanan hukum di Indonesia. Padahal, kepanikan serupa tak mereka tampakkan sedikitpun terhadap sistem hukum lainnya. Hatta, terhadap hukum warisan kolonial Belanda. Sekalipun mereka kadang coba bersikap kritis – kepada sistem hukum lain tersebut, namun kekritisannya semata-mata untuk memperbaiki dan mengukuhkan hukum itu agar semakn menjadi anutan masyarakat. “Apakah hukum jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?” (Al Maidah : 50)

masjid dan fobia islam

Ketakutan beberapa kalangan terhadap diterapkannya syariat Islam sebenarnya tiada beralasan. Kalau kita mau jujur dengan sejarah bangsa ini, niscaya tak akan bisa mengelak terhadap kenyataan bahwa kehidupan bangsa ini dijiwai oleh Piagam Jakarta. Bahkan saat Dekrit Presiden 5 Juli 1959 digulirkan Ir Sukarno, Piagam Jakarta disebut sebagai menjiwai UUD 1945. “Kami berkeyakinan bahwa Piagam Jakarta tertanggal 22 Juni 1945 menjiwai Undang-Undang Dasar 1945 dan adalah merupakan suatu rangkaian kesatuan dengan konstitusi tersebut.” Begitulah Presiden Sukarno berucap kala itu.

Prof. Notonagoro, guru besar Universitas Gajah Mada, memberikan arti terhadap kata “menjiwai” dalam Dekrit Presiden sebagai berikut; “Piagam Jakarta menjiwai UUD 1945, khususnya terhadap pembukaannya dan pasal 29, pasal mana harus menjadi dasar bagi kehidupan hukum di bidang keagamaan.” Selanjutnya, “Bahwa dengan demikian kepada perkataan “Ketuhanan” dalam Pembukaan UUD 1945 dapat diberikan arti “Ketuhanan dengan kewajiban bagi umat Islam menjalankan syariatnya.” ” … sehingga atas dasar ini dapat diciptakan perundang-undangan …. Atau peraturan pemerintah lain …. (Media Dakwah, No. 324 Rabiul Awwal 1422/Juni 2001)

Apapun argumentasinya, kewajiban seorang muslim seharusnya memegang komitmen religiusnya. Apalagi dalam suasana sistem konstitusi yang memungkinkan untuk mewujudkan komitmen itu. Karena itu, tak sepantasnya fobi terhadap penerapan syariat Islam sebegitu kokoh menggelayut dalam diri. Hanya orang yang berpenyakit dalam hatinya yang begitu tega mencabik-cabik upaya penerapan syariat. Jangan jadi orang beragama yang membunuh agamanya. Lantaran fobi, agama pun bisa anda kubur!. Naudzubillah, Allahu A’lam. Oiya, kunjungi dan baca artikel disini ya, banyak banget wawasan baru yang insightfull.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *